Materi Bab 4 Kurikulum Merdeka

 

Bab 4
Keberagaman Bangsa Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika

A. Makna Persatuan dalam Keberagaman
    Menurut tokoh perdamaian antarumat beragama, Din Syamsuddin mengemukakan  bahwa  keberagaman  merupakan  itrah  manusia  yang  tidak bisa dihilangkan. Kita perlu menerimanya sebagai sebuah keniscayaan dan membangun persaudaraan antarumat beragama sebagai upaya memperkuat nilai-nilai kemanusiaan (Kompas, 2017).
    Menurut pengamat masalah sosial, Widiyanto (2017) mengemukakan bahwa keberagaman adalah keadaan atau sifat yang beragam, baik dalam hal ras, agama, budaya, atau nilai. Keberagaman dapat dianggap sebagai kekayaan yang dapat meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam masyarakat.    
    Secara umum, keberagaman dianggap sebagai fenomena sosial yang kompleks dan penting dalam kehidupan manusia. Meskipun keberagaman dapat menjadi sumber konlik dan kesalahpahaman, keberagaman juga dapat membawa manfaat bagi masyarakat dan negara jika dikelola dengan baik.
    Keberagaman yang ada di Indonesia adalah ciri khas bangsa sekaligus menjadi keunggulan bangsa Indonesia dari bangsa lain di dunia. Perbedaan dalam keberagaman bukanlah untuk dijadikan alasan perpecahan atau permusuhan. Perbedaan dalam keberagaman bangsa Indonesia berada dalam bingkai  Bhinneka Tunggal Ika, yaitu walaupun bangsa Indonesia memiliki banyak perbedaan, semuanya adalah satu kesatuan sebagai sebuah bangsa.
  Bangsa Indonesia memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan itu menjadi pedoman untuk membangun persatuan dan kesatuan  bangsa. Persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dibangun berdasarkan kenyataan dalam kehidupan masyarakat berupa keberagaman. Kita harus berupaya untuk menjadikan perbedaan dan keberagaman itu sebagai suatu kekuatan untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan  nasional. Perbedaan dan keberagaman tersebut harus diwadahi dalam satu ikatan yang menghormati segala perbedaan. Dengan demikian, keberagaman itu tidak akan berubah menjadi hal yang merugikan persatuan bangsa.
    Pada umumnya, perbedaan atau keberagaman yang ada di masyarakat dapat berdampak positif ataupun negatif. Dampak positif keberagaman adalah memiliki banyak alternatif atau pilihan baik berupa pemikiran, sumber daya manusia, dan bakat yang sangat dibutuhkan untuk kemajuan bangsa. Contoh dampak positif dari keberagaman adalah memiliki jumlah karya budaya yang banyak dan bervariasi, beragam rumah adat, banyaknya makanan khas daerah, dan masih banyak lagi.
    Adapun dampak negatif dari keberagaman adalah munculnya benih konlik  karena  merasa  golongan  atau  pihaknya  saja  yang  paling  benar yang diakibatkan oleh adanya kesulitan beradaptasi dalam suatu kesatuan. Munculnya perasaan kedaerahan dan kesukuan yang berlebihan dan disertai tindakan yang merusak persatuan, dapat mengancam keutuhan NKRI. Demikian pula halnya dalam hal keberagaman beragama yang apabila satu pemeluk  agama tidak mau berinteraksi dan menghargai pemeluk agama lainnya, maka akan menimbulkan perpecahan. Perbedaan golongan sosial ekonomi juga dapat memicu konlik, misalnya konlik antara kaum pendatang dan pribumi atau konlik golongan kaya dan miskin. Semua itu perlu diatasi dengan adanya saling menghormati dan menghargai.

    Keberagaman dalam masyarakat dapat terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Berikut ini beberapa faktor yang memicu terjadinya keberagaman dalam suatu masyarakat.
  1. Letak strategis wilayah Indonesia. Wilayah Indonesia diapit oleh dua samudra dan dua benua, yaitu Samudra Pasiik dan Samudra Hindia serta Benua Asia dan Benua Australia. Letak Indonesia yang strategis membuat negara ini menjadi jalur perdagangan internasional. Karena berada di jalur perdagangan, maka hasil bumi tanah air Indonesia dapat dengan mudah dibawa ke luar negeri. Selain itu, Indonesia juga sulit untuk mencegah masuknya pengaruh asing, baik produk asing maupun kebudayaan dari luar, karena menjadi perlintasan orang dan barang.
  2. Sebagai Negara Kepulauan. Di Indonesia terdapat ribuan pulau, baik yang berpenghuni maupun tidak. Kondisi antara satu pulau dengan pulau lainnya tidak sama. Demikian pula ukuran pulau yang ada tidaklah sama. Terdapat lima pulau besar dan ribuan pulau kecil. Kelima pulau besar tersebut antara lain Kalimantan, Sumatra, Papua, Sulawesi, dan Jawa. Pulau Kalimantan dan Papua masing- masing berbatasan dengan negara lain.
  3. Perbedaan Kondisi Alam. Indonesia memiliki bentang alam yang lengkap dan menakjubkan. Ada kawasan pegunungan dengan ketinggian berbeda. Ada kawasan pantai, perbukitan, rawa, sungai, dataran kering dan tandus, juga dataran subur. Kondisi alam yang berbeda itu mengakibatkan terjadinya perbedaan pada apa yang tumbuh di atasnya. Tidak semua lahan cocok untuk ditanami padi atau jagung. Ada lahan yang cocok untuk tambak atau pembuatan garam. Kondisi alam yang berbeda itu menjadikan masyarakat yang tinggal di sana beradaptasi, seperti dalam hal membuat bentuk rumah, makanan pokok, pakaian, juga ragam kesenian sebagai ekspresi masyarakat.
  4. Transportasi dan Komunikasi. Kemajuan transportasi membuat perpindahan orang maupun pertukaran barang menjadi lebih cepat dan mudah. Wilayah dengan sarana transportasi yang baik relatif akan lebih maju daripada wilayah yang sarana transportasinya tidak atau belum berkembang. Kelancaran komunikasi juga berpengaruh terhadap kemajuan daerah. Sebuah daerah yang memiliki  infrastruktur atau daya dukung komunikasi yang baik dan terbaru akan lebih cepat menerima informasi dan menyebarkannya dari dan ke berbagai wilayah lain. Sebaliknya, wilayah dengan sistem informasi yang tertinggal akan terlambat menerima informasi terbaru dan cenderung akan tertinggal.
  5. Penerimaan Masyarakat atas Perubahan. Persepsi masyarakat akan hal-hal baru tidak selalu sama. Tidak selamanya hal-hal yang baru itu menguntungkan bagi masyarakat. Namun, bagaimana sikap  masyarakat terhadap hal-hal baru atau asing tersebut akan berpengaruh pada seberapa kuat terjadinya perubahan itu sendiri. Contohnya adalah ada sebagian masyarakat yang mudah menerima atau beradaptasi dengan segala hal yang berasal dari luar negeri dan merasa bahagia apabila sama dengan orang asing. Namun, ada juga masyarakat yang menjaga jarak dengan kehadiran orang atau budaya asing untuk menjaga keaslian identitasnya atau budayanya sendiri.
B. Persatuan dalam Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam Kehidupan Bermasyarakat
1. Persatuan dalam Keberagaman Suku
    Beragam suku bangsa tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Menurut sensus penduduk Badan Pusat Statistik pada 2010, di Indonesia hidup lebih dari 1.300  suku  bangsa. Contoh suku  bangsa di Indonesia antara lain suku Aceh, Batak, Melayu, Minang, Sunda, Baduy, Jawa, Dayak, Bugis, Minahasa, Bali, Timor, Maluku, Papua, dan masih banyak suku bangsa lainnya. Adapun suku bangsa terbanyak adalah suku Jawa dengan jumlah populasi mencapai 40,22 persen yang tersebar di tanah air dan sebagian besar tinggal di Pulau Jawa. Suku bangsa terbesar kedua adalah suku Sunda dengan jumlah populasi 15,50 persen. Suku Batak menempati posisi ketiga dengan jumlah populasi 3,58 persen.
   Suku bangsa juga bisa diidentiikasi dengan menggunakan kategori dari unsur  wilayah, karya budaya, bentuk rumah adat, atau pakaian tradisional. Misalnya rumah adat suku Baduy di Provinsi Banten terbuat dari bambu dan kayu yang ramah lingkungan. Hal ini sesuai dengan konsep hidup suku Baduy yang menyatu dengan alam.
   Contoh lainnya adalah suku Minangkabau yang memiliki pakaian adat sangat menarik. Suku Minangkabau berasal dari Sumatra Barat.
   Suku Jawa memiliki karya andalan batik tulis yang kini dikembangkan juga di berbagai provinsi bahkan telah menjadi warisan kekayaan dunia. Selain batik tulis, suku Jawa juga memiliki kekayaan budaya lainnya berupa gamelan, wayang kulit, bangunan candi, dan masih banyak lagi.
  Suku Bali terkenal karena keanekaragaman budayanya. Suku Bali juga memiliki sistem pertanian yang baik, yaitu Subak.
   Berikut ini tabel yang menunjukkan kekayaan dan keberagaman suku bangsa Indonesia:
    Berikut ini daftar sejumlah suku bangsa di Indonesia berdasarkan tujuh
wilayah besar meliputi pulau atau kepulauan.

2. Persatuan dalam Keberagaman Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
   Menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), agama adalah ajaran atau  sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Setiap warga negara dilindungi oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk memeluk satu agama dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. 
   Agama juga dapat diartikan sebagai sejumlah peraturan yang dianggap suci, terkait dengan pelaksanaan ibadah, dan tradisi yang berkaitan dengan hubungan manusia, serta berhubungan dengan kekuatan yang lebih tinggi atau dengan keberadaan yang sakral. Agama meliputi keyakinan tentang asal- usul dan tujuan kehidupan, moralitas, praktik atau ritual ibadah, dan konsep tentang dunia dan akhirat.
  Agama juga dapat dianggap sebagai sistem sosial yang membentuk komunitas berdasarkan kepercayaan bersama dan nilai-nilai  moral.  Hal  ini sering melibatkan praktik ritual, seperti doa, meditasi, dan pengabdian kepada kekuatan yang lebih tinggi, serta penerapan prinsip-prinsip moral dalam kehidupan sehari-hari.
  Adapun agama resmi yang diakui keberadaannya di Indonesia adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Selain agama tersebut, pemerintah juga melindungi berbagai aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  Dengan demikian, di Indonesia setiap orang berhak memeluk agama sesuai dengan agama resmi yang diakui oleh negara. Setiap umat beragama dijamin untuk dapat menjalankan perintah-perintah dan ajaran dalam agamanya, termasuk merayakan hari raya. Sebagai contoh, umat Islam diberikan kebebasan untuk merayakan hari raya Idulitri dan Iduladha. Umat Kristen  dan  Katolik  merayakan  hari  Natal,  umat  Hindu  merayakan  Nyepi, umat Buddha merayakan Waisak, dan umat Khonghucu merayakan Imlek.
    Hal tersebut sebagai bukti bahwa keberagaman agama di Indonesia sangat dihormati. Sikap toleransi yang tinggi dari seluruh pemeluk agama di Indonesia menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Perhatikan tabel berikut!
 Selain agama-agama resmi yang diakui seperti dibahas sebelumnya,  pemerintah juga menjamin kebebasan menjalankan ibadah bagi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Penghayat kepercayaan terhadap Tuhan adalah orang yang memiliki keyakinan bahwa ada kekuatan yang lebih besar di luar dirinya yang mengatur alam semesta dan kehidupan manusia. Mereka memercayai bahwa Tuhan adalah sumber segala kekuatan dan keberadaan serta memiliki kekuasaan untuk mengatur dan memengaruhi segala sesuatu yang ada di dunia ini. 

3. Persatuan dalam Keberagaman Ras
   Indonesia adalah negara yang terbuka dan tidak menutup diri dari pergaulan dunia. Sebagai negara yang terbuka terhadap masuknya bangsa asing, maka keberagaman ras di Indonesia menjadi hal yang wajar. Kehadiran pendatang dari berbagai wilayah dunia yang juga berasal dari  ras yang ada kemudian menetap di Indonesia sehingga menyebabkan terjadinya keanekaragaman ras di Indonesia.
  Pada  saat  ini  dapat  diidentiikasikan  bangsa Indonesia terdiri atas beberapa  ras. Penduduk yang berasal dari ras Malayan-Mongoloid banyak yang bermukim di wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, dan Sulawesi. Penduduk dengan ras Melanesoid banyak tinggal di wilayah timur Indonesia yang meliputi Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Ada juga ras yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia yang dikenal dengan ras Asiatic Mongoloid. Ras ini biasanya berasal dari Tionghoa, Jepang, dan Korea. Masih ada ras lain yang berada di Indonesia, yaitu ras Kaukasoid. Ras Kaukasoid ini berasal dari India, Timur Tengah, Australia, Eropa, dan Amerika.

Berikut ini ciri-ciri isik pengelompokkan ras.
  1. Bentuk badan. Bentuk badan dimaksud adalah dilihat dari tinggi dan besar badan seseorang. Ada ras tertentu yang dikenal memiliki bentuk badan tinggi besar, namun ada juga ras yang dikenal memiliki perawakan kecil mungil.
  2. Bentuk kepala. Biasanya bentuk kepala yang dijadikan ukuran adalah bulat atau memanjang yang menjadi ciri umum ras tertentu.
  3. Bentuk muka atau wajah. Ada beberapa hal yang dijadikan patokan untuk mengidentiikan ras berdasarkan bentuk muka atau wajah seperti tulang pipi menonjol atau tidak, jarak antara dua tulang pipi dekat atau jauh, memiliki bentuk tulang rahang yang tegas atau tidak.
  4. Bentuk hidung. Bentuk hidung ini relatif mudah dikenali dan biasanya orang mengelompokkan menjadi pesek, mancung, atau biasa.
  5. Warna kulit, warna rambut, dan warna mata. Pengelompokan berdasarkan kategori ini mudah dilihat. Contohnya berkulit putih, kuning, hitam, atau sawo matang. Contoh lainnya berambut hitam, cokelat, pirang, dengan bentuk lurus, keriting, atau bergelombang, sedangkan dari warna mata yang dilihat adalah bulatan tengahnya ada yang mata hitam, biru, atau hijau.
  Perbedaan ras bersifat genetik. Itu artinya setiap orang dilahirkan sesuai dengan asal keturunannya dan hal tersebut tidak bisa ditolak atau dihindari. Dengan demikian, kita tidak boleh melakukan penghinaan atau pelecehan terhadap ras orang lain, baik yang sama maupun yang berbeda.

4. Persatuan dalam Keberagaman Antargolongan
  Masyarakat Indonesia adalah masyarakat multikultural atau negara yang penduduknya memiliki ragam budaya. Terdapat banyak kelompok di dalam masyarakat Indonesia. 
  Kelompok-kelompok dalam masyarakat itu ada yang membentuk golongan atau  dianggap  sebagai  satu  golongan.  Hal  ini  biasanya  untuk  memudahkan dalam  mengidentiikasi  perbedaan  kelompok  yang  satu  dengan  yang  lain, maupun membuat persamaan dari berbagai kelompok. Contohnya adalah penggolongan berdasarkan jenis pekerjaan seperti buruh, petani, guru, karyawan, atau nelayan. Ada juga penggolongan berdasarkan keaktifan di partai  politik seperti pengurus partai, simpatisan, atau kader. Penggolongan dapat juga berdasarkan status sosial seperti pengusaha, pejabat, pelajar, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Atau juga penggolongan berdasarkan wilayah seperti orang desa, kota, nama daerah.
   Perbedaan golongan ini dapat terjadi karena adanya kebutuhan dan pilihan dari masing-masing individu ataupun kelompok. Pada bidang tertentu, perbedaan golongan ini dapat berubah dan berpindah. Namun ada juga golongan yang relatif sulit berpindah dan berubah.
 Perbedaan golongan dapat pula ditinjau berdasarkan hierarki dan setara. Golongan hierarki adalah golongan yang terbentuk secara vertikal atau ada kelompok yang berada di posisi atas dan ada yang di posisi bawah. Contoh penggolongan ini adalah berdasarkan status sosial (buruh-majikan, pimpinan- staf-karyawan), pendidikan (tidak sekolah, tamat SD, SMP, SMA, Diploma/ Sarjana, Pascasarjana), jabatan (presiden, gubernur, walikota, bupati). Golongan yang setara yang tidak memandang lebih tinggi dari lainnya meliputi penggolongan berdasarkan agama, idealisme, adat istiadat, dan sebagainya.
  Perbedaan golongan yang ada di masyarakat bukanlah alasan untuk terjadinya perpecahan. Perbedaan golongan yang ada itu untuk saling melengkapi kebutuhan manusia dalam kehidupan. Manusia perlu berperan dalam berbagai bidang kehidupan sesuai dengan minat dan kemampuannya. Setiap orang pun harus saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada. Selanjutnya, dalam kehidupan, mereka dapat melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan hidup bersama.  Contohnya bentuk kerja sama baik langsung maupun tidak langsung adalah golongan pedagang hanya dapat menyediakan barang jika ada penyuplai barang seperti dari petani atau pengrajin, petani dapat hidup sejahtera dan menikmati hasil pertaniannya jika hasil panen dijual kepada konsumen yang luas melalui pedagang yang tersebar di berbagai wilayah.

C. Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Sosial dan Keberagaman
  Terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan perubahan sosial dan keberagaman dalam suatu masyarakat. Berikut beberapa faktor utama yang dapat memengaruhi perubahan sosial dan keberagaman.
1. Faktor teknologi 
Kemajuan teknologi dapat mempercepat perubahan sosial dan keberagaman dalam masyarakat, terutama dalam hal komunikasi dan akses informasi.
2. Faktor demografi 
Perubahan jumlah penduduk, struktur usia, dan tingkat kelahiran serta kematian dapat memengaruhi keberagaman dan perubahan sosial dalam masyarakat.
3. Faktor ekonomi
Perubahan ekonomi, seperti perubahan dalam pola kerja, pendapatan, dan jenis pekerjaan, dapat memengaruhi keberagaman dan perubahan sosial dalam masyarakat.
4. Faktor politik
Perubahan pemerintahan, kebijakan publik, dan hukum dapat memengaruhi perubahan sosial dan keberagaman dalam masyarakat.
5. Faktor lingkungan
Perubahan  lingkungan  fisik,  seperti perubahan iklim dan kondisi alam, dapat memengaruhi perubahan sosial dan keberagaman dalam masyarakat.
6. Faktor budaya
Perubahan nilai-nilai, norma, dan perilaku budaya dapat memengaruhi keberagaman dan perubahan sosial dalam masyarakat.
7. Faktor migrasi
Perubahan mobilitas penduduk dan migrasi dapat memengaruhi keberagaman dan perubahan sosial dalam masyarakat.
8. Faktor globalisasi
Perubahan dalam hubungan internasional dan arus informasi global dapat memengaruhi perubahan sosial dan keberagaman dalam masyarakat.
9. Faktor konflik
Konflik  sosial  dan  politik dapat memengaruhi keberagaman dan perubahan sosial dalam masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
10. Faktor agama
Perubahan dalam praktik agama dan kepercayaan dapat memengaruhi keberagaman dan perubahan sosial dalam masyarakat.
D. Tantangan dan Sikap terhadap Pengaruh Perubahan Budaya Tingkat Lokal, Nasional, dan Global
   Perubahan sosial budaya di sekitar kita tidak dapat dihindari dan akan terus terjadi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk bisa merespons perubahan yang terjadi dengan baik, terutama di era yang serba cepat dan dinamis seperti saat ini. Berikut ini adalah beberapa tips untuk merespons perubahan yang terjadi.
1. Terima perubahan dengan positif
Jangan takut dengan perubahan. Cobalah terima dengan positif, lihatlah peluang yang terbuka dan manfaat yang dapat diperoleh.
2. Evaluasi situasi
Lakukan evaluasi terhadap perubahan yang terjadi, termasuk hal yang berubah dan tidak berubah, implikasi bagi diri sendiri atau organisasi, serta hal yang perlu dilakukan.
3. Buat rencana tindakan
Setelah mengevaluasi situasi, buatlah rencana tindakan untuk mengatasi perubahan  tersebut.  Hal  yang  harus  dilakukan  untuk  menyesuaikan diri atau organisasi dengan perubahan dan cara mengimplementasikan perubahan tersebut.
4. Berkomunikasi
Jangan ragu untuk berkomunikasi dengan orang lain tentang perubahan yang terjadi. Diskusikan mengenai pengaruh perubahan pada diri sendiri atau organisasi dan cara mengatasinya bersama-sama.
5. Jangan terlalu cepat menyerah
Perubahan sering kali memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri. Jangan terlalu cepat menyerah jika ada tantangan dalam mengatasi perubahan tersebut.
6. Terus belajar
Perubahan yang terjadi bisa menjadi peluang untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Jangan berhenti belajar dan mencoba hal-hal baru.

  Dengan merespons perubahan dengan baik, kalian akan lebih siap untuk menghadapi tantangan dan mencapai tujuan yang diinginkan.
Perubahan tidak hanya terjadi dalam skala kecil masyarakat, namun juga di tingkat nasional dan dunia. Berikut ini adalah contoh perubahan di tingkat global.
1. Perubahan iklim
Perubahan iklim di seluruh dunia terus memengaruhi lingkungan dan berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk kesehatan, pertanian, dan ekonomi.
2. Revolusi digital
Perkembangan teknologi informasi dan internet telah memicu perubahan sosial dan ekonomi  yang  signiikan  di  seluruh  dunia,  mempercepat pertumbuhan  ekonomi digital dan memengaruhi cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain.
3. Kesenjangan ekonomi
Meskipun pertumbuhan ekonomi global tergolong pesat, kesenjangan ekonomi antara negara-negara maju dan berkembang masih sangat tinggi dan terus memperluas kesenjangan sosial dan ekonomi di seluruh dunia.
4. Demografi
Perubahan demograis seperti peningkatan populasi, penuaan penduduk, dan migrasi internasional berdampak besar pada politik, sosial, dan ekonomi global.
5. Krisis kemanusiaan
Krisis kemanusiaan seperti konlik bersenjata, bencana alam, dan pandemi global berdampak besar pada kehidupan manusia di seluruh dunia dan menuntut solusi global untuk mengatasi masalah tersebut.
6. Perdagangan dan globalisasi
Perdagangan internasional dan globalisasi mempercepat pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial, tetapi juga dapat memicu ketidaksetaraan dan masalah lingkungan.
7. Teknologi energi bersih
Peningkatan penggunaan teknologi energi bersih dan pergeseran dari sumber energi fosil dapat membantu mengatasi masalah lingkungan dan mengurangi emisi gas rumah kaca di seluruh dunia.

  Berikutnya, apa sajakah perubahan di tingkat nasional? Ada banyak perubahan yang dapat terjadi di tingkat nasional, tergantung pada konteks dan kondisi yang sedang terjadi di negara tersebut. Beberapa perubahan yang mungkin terjadi di tingkat nasional antara lain sebagai berikut.
1. Perubahan dalam kebijakan pemerintahan 
Pergantian kepala negara, anggota DPR berpotensi terjadinya perubahan di dalam kehidupan yang dilakukan melalui perubahan peraturan atau kebijakan. Contohnya adalah kebijakan pengalihan bahan bakar minyak tanah menjadi gas untuk menyalakan kompor rumah tangga.
2. Perubahan dalam kebijakan ekonomi
Pemerintah dapat mengubah kebijakan ekonominya dari kapitalisme ke sosialisme atau sebaliknya, atau dari orientasi ekonomi dalam negeri ke orientasi ekonomi global.
3. Perubahan dalam kebijakan luar negeri
Pemerintah dapat mengubah kebijakan luar negerinya dari non-intervensi ke intervensi aktif dalam urusan internasional.
4. Perubahan dalam sistem pendidikan
Negara dapat melakukan reformasi pendidikan dengan mengubah kurikulum, sistem ujian, atau metode pembelajaran.
5. Perubahan dalam hukum dan sistem peradilan
Pemerintah dapat mengubah Undang-Undang atau prosedur peradilan untuk meningkatkan efektivitas sistem peradilan.
6. Perubahan dalam hak asasi manusia
Pemerintah dapat meningkatkan perlindungan hak asasi manusia, seperti hak atas kesehatan, pendidikan, dan kebebasan berekspresi.
7. Perubahan dalam sistem kesehatan
Pemerintah dapat melakukan reformasi sistem kesehatan dengan tujuan meningkatkan aksesibilitas, kualitas, dan eisiensi layanan kesehatan.
8. Perubahan dalam sistem transportasi
Negara dapat meningkatkan investasi di bidang transportasi untuk memperbaiki jaringan jalan, sistem transportasi publik, dan infrastruktur transportasi lainnya.
9. Perubahan dalam sistem energi
Pemerintah dapat mempromosikan penggunaan energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meningkatkan eisiensi energi.
10. Perubahan dalam sistem lingkungan
Pemerintah dapat memperketat regulasi lingkungan untuk melindungi sumber daya alam dan mengurangi dampak negatif manusia pada lingkungan.

   Selanjutnya, apa saja perubahan di tingkat lokal? Perubahan di tingkat lokal dapat mencakup berbagai hal tergantung pada konteks dan lingkupnya. Berikut beberapa contoh perubahan yang mungkin terjadi di tingkat lokal.
1. Perubahan demografi
Perubahan dalam komposisi penduduk lokal, seperti pertumbuhan populasi, penurunan angka kelahiran atau kematian, perubahan dalam proporsi usia atau jenis kelamin penduduk.
2. Perubahan ekonomi
Perubahan dalam kondisi ekonomi  lokal seperti peningkatan atau penurunan pertumbuhan ekonomi, investasi baru, pengembangan sektor ekonomi baru, penutupan perusahaan, dan lain-lain.
3. Perubahan lingkungan
Perubahan kondisi lingkungan lokal seperti peningkatan polusi udara atau air, degradasi lahan, perubahan iklim, pengurangan keanekaragaman hayati, dan lain-lain.
4. Perubahan sosial
Perubahan dalam norma, nilai, atau perilaku sosial di tingkat lokal seperti perubahan gaya hidup, perubahan dalam pola makan, perubahan dalam hubungan sosial, dan lain-lain.
5. Perubahan politik
Perubahan dalam sistem pemerintahan lokal seperti pergantian kepala daerah, perubahan kebijakan publik, pembentukan atau pembubaran lembaga pemerintah, dan lain-lain.
6. Perubahan teknologi
Perubahan dalam teknologi lokal seperti adopsi teknologi baru, pengembangan inovasi lokal, dan lain-lain.
7. Perubahan budaya
Perubahan dalam praktik budaya  lokal seperti penurunan atau peningkatan popularitas seni dan budaya, perubahan dalam tradisi lokal, dan lain-lain.
8. Perubahan infrastruktur
Perubahan dalam infrastruktur  lokal seperti pembangunan jalan, jembatan, gedung, rumah sakit, dan lain-lain.
9. Perubahan pendidikan
Perubahan dalam sistem pendidikan lokal seperti reformasi kurikulum, pengembangan program pendidikan baru, dan lain-lain
E. Keberagaman dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika
    Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan atau motto nasional Indonesia yang berarti “berbeda-beda (tetapi) tetap satu jua”. Semboyan ini menggambarkan makna pentingnya persatuan dalam keberagaman yang ada di Indonesia.
    Dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, keberagaman merujuk pada banyaknya perbedaan yang ada di Indonesia, baik dari segi suku,  agama, budaya, bahasa, maupun ras. Indonesia memiliki lebih dari 300 suku bangsa yang memiliki kebudayaan, bahasa, dan adat istiadat yang berbeda-beda. Selain itu, Indonesia juga memiliki beragam agama seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu,  Buddha,  Khonghucu,  dan  kepercayaan-kepercayaan tradisional yang masih dijalankan oleh sebagian masyarakat.
   Meskipun terdapat perbedaan-perbedaan tersebut, keberagaman dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan pentingnya menghargai, menghormati, dan menerima perbedaan satu sama lain. Keberagaman juga menunjukkan kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
   Oleh karena itu, Bhinneka Tunggal Ika menjadi penting dalam memelihara persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia di tengah keberagaman yang ada. Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan bahwa meskipun berbeda-beda, kita tetap satu bangsa yang harus saling menghargai dan menghormati satu sama lain untuk membangun Indonesia yang lebih baik.


Demikian Materi Pembelajaran Bab 4 Keberagaman Bangsa Indonesia dalam Bingkai  Bhinneka Tunggal Ika.
Semoga Bermanfaat.

Sumber :
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI
REPUBLIK INDONESIA, 2023
Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VII
Penulis: Yayat Suryatna dkk. 
ISBN: 9978-623-194-633-1 (jil.1 PDF) 


0 komentar:

Posting Komentar